Kau dan aku, terbatas langit biru

Segudang harap, merah muda bersemu

Aku lupa rasa, lupa raga

Sentuh hancur dimensi waktu

.

Kau

Abu dalam kelopak rindu

Jingga mentari, kita lestari

Tidak, tidak

Ingat rasa, ingat raga

Hilang hati.

08 12 15

Likes

Comments

"I pray that you may have the power to comprehend, with all the saints, what is the breadth and length and height and depth, and to know that the love of Christ that surpasses knowledge, so that you may be filled with all the fullness of God."
(Ephesians 3:18-19)

It's 9.22pm as I start writing this post. At this time of the day I am usually focused on raising my sims, but today might be a little different. Some people might call me a little too "religious", but truth is, yes I keep a Bible in my apartment room, and yes, I (sometimes) read it.

Today's verse reminded me of something, I'll just quickly burst it here before I forget everything, so bare with me guys.

It's funny because most of the time, when someone asks me "What are the things God has done that makes you feel loved?" I'd answer with grand answers, such as "HE helped me got into UI even though I was sick during the day of the test" "HE helped me survive Social Statistics class" and many more of these kind. But this verse from Ephesians (Efesus; I totally googled on how it's called in English merely seconds ago) makes me realise that I do not completely comprehend on God's love.

It is not only about the grand things He does. But also the ordinary things I find everyday. It is deep, long, wide and high. It surpasses all knowledge. God's love is when my classmate offered me a ride home from the campus. It is when a friend lent me her umbrella to use on a rainy day when I have to catch class. And when I was walking with a friend under the pouring rain, and getting wet together, so that I won't look soaked up all alone. It is as simple as calling my family right before bedtime.

It is supposed to be felt everyday, every minute, every single second. God's love is when I get to share this beautiful realisation to those who read this.

And so I was reminded today, to always be thankful for everything in life. To always give God credits on all the little things, even ones we do not find extra ordinary

Likes

Comments

A little sharing won't hurt, so here it goes-

Setelah memutuskan untuk pergi ke Konser Gue 2 secara dadakan, gue dan Darrell pun tiba di (Ex) Driving Range Senayan pada pukul 16.30. Satu jam setengah sebelum konser usai, bravo bravo👏 Cuaca saat itu cerah, engga ada tanda-tanda mau ujan lagi (setelah earlier ujan deres), jadi payung pun kami tinggal di mobil.

Di halaman depan, terlihat ibu-ibu sedang menarikan yel yel Ahok-Djarot yang hip hip hura hura. Aksi ibu-ibu ini ternyata cukup menarik sehingga Darrell pasrah aja ketika gue pasang tampang 'please please kita masuk ke arena desakan di dalam'. It's really fun to watch kotak-kotak worn by people at so many different levels. Ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, kakek, nenek, berkerudung, tidak berkerudung, chinese, non-chinese, bahkan bule. Sayangnya gue meninggalkan syal kotak-kotak mama di rumah (saking buru-burunya berangkat...)

Hip hip hura hura, coblos nomor 2✌

Slank was half way through the performance ketika kami sampai di area panggung. I was surprised karena despite pernyataan di medsos tentang '18 and above only', banyak baby dan anak-anak yang datang. Ada yang sampai bela-belain gelar tiker di atas rumput HAHAHA😄

Baru sekitar 10 menit kami berada di tengah kerumunan orang, hujan turun bertepatan dengan akhir penampilan dari Slank. Dari yang awalnya rintik-rintik, tiba-tiba berubah deras. Orang-orang pun langsung berlarian mencari tempat berteduh, termasuk gue dan Darrell yang GA bawa payung. Kami sempat memutuskan untuk udah deh balik aja, sampai Slank meneriakan yel-yel "GUE DUA GUE DUA" "PILIH YANG LURUS, PILIH YANG JUJUR". Ternyata Pak Ahok dan Pak Djarot naik ke atas panggung untuk speech penutup.

Dengan wujud se mini ini, my eyes couldn't possibly locate where Ahok-Djarot were standing at. But just standing there made my day. Speech Pak Ahok dan Pak Djarot tentang "Perbedaan itu menguatkan" begitu membuat kami terharu. Gue bisa ngeliat decak kagum dari orang-orang sekeliling tempat gue berdiri. Seorang ibu beretnis Tionghua tersenyum super lebar sambil menepuk-nepuk bahu anaknya. Bapak di belakang gua berteriak "Gue dua" setiap kali Djarot menyampaikan kalimat penuh makna.

It's blurry but gold🌟

"Kita akan tunjukan bahwa Bhineka Tunggal Ika bukan hanya jargon, tapi sudah menghuni Jakarta! Siapapun kalian, apa agama kalian, apa suku kalian, dari mana asal suku kalian, saudara-saudara semua adalah saudara kita sebangsa senegara. Semua mempunyai hak dan kewajiban yang sama! Jangan tanyakan dari mana kau berasal, jangan tanyakan apa agamamu! Tapi tanyakan apa yang telah kau perbuat untuk Jakarta! Oleh karena itu, mari kita tunjukan bahwa kita mampu mewujudkan perdamaian💛" - Pak Djarot

Jujur speech ini benar-benar membuat gue terharu. Bisa berada disana, diantara kerumunan orang dengan etnis yang berbeda-beda, agama yang berbeda-beda, berkumpul untuk mendukung orang yang sama saja sudah cukup untuk membuat gue merasa kembali ke rumah. Masalah 'penistaan agama' 'kafir kafiran' boleh sedang dibicarakan dimana-mana. Tapi ramainya konser ini menunjukkan bahwa masih banyak orang nasionalis di Indonesia ini. Masih banyak yang menjunjung tinggi Pancasila dan berani menitipkan mimpi kepada seseorang dengan etnis dan agama yang berbeda dari mereka.

Words can't describe how thankful I am to be there. Standing in the crowd, fighting for Indonesia's most precious treasure, that is Bhineka Tunggal Ika❤

Kotak-kotaknya ketinggalan, saking buru-burunya HAHA😃

"Eh ini foto latarnya itu aja, lebih bagus, kayak diluar negeri tuh liat deh gedung-gedungnya" - Kata seorang bapak baik hati yang mau aja diminta tolong fotoin, bahkan sampai ngarahin latarnya segala👍

Likes

Comments

You’re the one I’ll never get the chance to explore.

The little piece of happiness I’ll never complete.

The unspoken obscurity.

The allure that is never going to fade.

The tenderness I get to experience in mere count.

The love I was never meant to recieve.

And believe it or not,

You, sir, are my unattainable reverie.

Sep 2015

Photo by Joceline Surjadi
Loc: Galeri Nasional Indonesia

Likes

Comments

Jidat Ayu emang maskot kita

Why?

Foto ber5 sama Bu-rung Merak

Masa-masa SMA emang fix yang paling enak pokoknya. Gua gatau bisa ngomong ini gara-gara kuliah baru sampe semester 1 memasuki 2, atau emang kenyataannya kayak begini. High school began with a tough start sih, zaman-zaman kelas 10 pas temen terbatas dan banyak yang ga gitu cocok, but I still found my first high school squad (Anchi, April, Gege & Ayu)💜

Kelas 11 gue ambil (dapat) jurusan bahasa. Dan disitulah all the adventure begins. Selama setahun di kelas 10, gua sama sekali ga kepikiran buat masuk bahasa. It's always been a galau choice between IPA and IPS. I always thought that anak-anak yang mau masuk IPA entah kenapa lebih asyik diajak ngomong. Anak-anak IPS lebih kekinian dan gue ga gitu fit in sama mereka. Itu dari segi pergaulan. Dari segi pelajaran beda lagi. I've always like sociology, segala yang menyangkut sosial sosial deh.

Jurusan Bahasa offers me the best of both worlds. Pergaulan yang pas, pelajaran yang sesuai sama minat. Antropologi, bidang yang mengkaji tentang manusia dan segala budayanya, ends up jadi pelajaran yang super exciting. I like that we study tradition, languages, cultures, the thing certain people have in common. I like that di kelas mandarin we watch Dao Ming Se!

This are few of my bahasa friends who ended up being my high school survival kit:):) Paula Marta, yang kebetulan lagi liburan kuliah dari Taiwan. She taught me a lot about being friendly to everyone. She's one of the nicest, friendliest person I have ever met. Paula paling jago Bahasa Mandarin di kelas, dan akhirnya belajar jadi translator di Taiwan, earning scholarship. Nydia, anak design yang cinta mati sama Iron Man, Loki, Sherlock dan masih banyak lagi. She's just really really really creative, period. Terus ada Ayu dan Nanami, yang gue kenal dari kelas X5, waktu masih diancem ga naik kelas sama Bu Patty gara2 nilai biologi merah cabay, like all the time. Dua duanya jadi mahasiswi Hukum UNDIP. We all become someone we never ever thought we would be💛 Nanami, yang selalu setia banget jadi teman gue, dalam untung dan malang, sehat dan sakit, merah ataupun hitam, ngambek maupun tidak ngambek. The person to go to at every level of life. Dan Ayu, yang kalo foto HARUS sebelah gua because kita sama-sama tidak kelihatan kalau di belakang. Yang mature banget, dan totally everyone's favorite. Everything happens for a reason and I sincerely hope you'll find your reason asap:)

Last but not least, makasih jalan-jalannnya kemarin. Kita sukses melakukan photoshoot di gramedia. Hope to see you all again soooonnnnn!

Setelah nyuri nyuri foto Pinguin lewat celah jendela

P.A.U.L.A

Likes

Comments

Spill Session no.1

#throwback to that one time we did fine dining (and possibly the only good picture we took)🍷

I've always been curious what 500k++ for 2 feels like, so he took me to a fancy restaurant for our 1st anniversary. And oh well, I can solely swear that we prefer casual dining. Sure it looks pretty good for pictures, and better for our egos. But food is $$$, everyone tries so hard to look fab glam, staying quiet and elegant, plus waiters staring at us the whole time, perhaps wondering if we are done with our meals and ready for dessert. Not to mention, 'adult' adults shoving looks at us like its improper for under 20s to dine in such fancy place.

However, we did complement the waiters who must've been trained on taking photos, because he knew how to hover from light to dark perfectly. And the decorations are so great, obviously way too great for us.

So, I don't get why a bunch of secondary students would hang out in such exclusive restaurants, except for a luxurious place to add location on instagram and take really fancy pics. But I guess experience is the best teacher, so there's no shame in acknowledging our unsuitable pockets and relationship stage to date in places such as this. We'll come back someday when we feel like it though xx

ps. Picture is taken in Wilshire, Senopati. A great place to take amazing photographs, and we regret not taking more pictures:(:( Food is goooooodddd🌟

Likes

Comments


#15 Pertama kali ngobrol sama Ci (kak) Anastasia Marcella itu pas Rapat Team Roses buat Weekend 10, di Gereja Trinitas, Cengkareng. Hari itu hari Valentine, kita abis main game keliling halaman gereja, dan kebetulan sama-sama lagi nunggu jemputan pulang. Dia duduk sebelah gua di bawahnya Gedung Eugenius de Mazenod, ngemper sambil nanya "Kamu mau masuk SMA mana?" Berhubung pertemanan baru sebatas admiring Ci Cello di Roses, gue pun menjawab polite "Sanur sih ci" 🚧 Ci Cello FIX ga inget kejadian ini, okay sip👍

Ternyata Ci Cello anak sanur juga, jadi dia dengan bangganya jawab "Seriusan? Gue anak Sanur loh" Something I would never forget, because Ci Cello end up jadi lulusan Sanur yang berhasil banget. Hukum UI, with boyfriend Arsitektur Unpar. Super goals💓 Dia juga jadi customer service gua perihal segala sesuatu yang menyangkut UI. Gue bahkan udah mulai nanya2-in Ci Cello tentang boleh apa engga izin daftar ulang telat jauh sebelum pengumuman keterima UI 👀 Makasih ya Ci Cello udah jadi my all time UI Survival Kit🌟


#16 Laurensia Juanti and I udah temenan lama. Sejauh yang gua inget sih dari Bible Camp, lalu lanjut Roses dan berbagai kegiatan gereja lainnya. Dari jadi peserta Bible Camp sampe akhirnya jadi Kakak Penjaga Tenda Bible Camp⛺ Di hari pertama gua masuk SMA, Laurensia Juanti-lah yang ngajarin gua naik busway (Transjakarta) pulang sekolah. Dari busway masih goyang dombret sampe sekarang mulus lurus, dari sering 'Evakuasi' sampe AC dingin udah kita jalanin bareng ya ju. ⚠ Note: Evakuasi - pindah busway di tengah jalan dengan cara mendekatkan pintu dua bus, supaya penumpang di bus yang rusak bisa melompat ke bus pengganti dengan mudah.

Banyak banget hal unbelievable dalam diri gua terjadi berkat Ms Laurensia Juanti Halim ini. Mulai dari BP OSIS attempt number 1, BP OSIS attempt number 2, sampe the best (and most tiring) struggle, Rastrophy 2015 dimana dia jadi Ketua Keamanan (read: security guard) dan gue jadi Ketua Perkap (among the things I'm really proud of, ever ever ever) For everything you make me go through, I am incredibly thankful.


#17 Lastly, Felicia Marcella, Field Commander PSUMB dan my Instagram feed instructor. Dialah yang menyadarkan gue kalo menggunakan Instasize di Instagram itu sifatnya TABOO. I still remember geng lo di Little Angels Choir, dan suara lo yang in such young age aja udah ultimate Alto. Dan our parents yang kalo kata Felis 'ngomongin kita, tauuu' di ME (read: Marriage Encounter) And inget ga sih lo pernah bilang "I don't mind pacaran sama cowo yang mukanya standard standard aja, orang gue juga begini" Something I LOLed at, tapi sebenarnya penuh kerendahan hati dan kesadaran diri, which gue admire dari lu secara diam diam (jangan bangga!)💩

Ada juga hari-hari dimana gue nangis meratapi tragisnya cerita HTS bertepuk sebelah tangan gue, dan lo beserta Darrell Lee (sebagai group 👊) line call gue sampe berjam-jam. L juga yang akhirnya nemenin w ketemuan sama titik titik walaupun L lelah sepulang latihan MB, dengan alasan "Mau fotoin lo berdua". Maafin kami akhirnya harus menutup Group 👊 atas alasan perasaan ya Felis. Kami super lucky jadi teman lo bcs lo yang pertama kali sadar salah satu dari Group 👊 memiliki perasaan terhadap yang lain HAHA😁 Gua akan setia jadi teman yang terus-terusan nawarin pasangan hidup buat lo, okay?


Kemarin kita akhirnya ketemuan lagi setelah udah lama ga naik busway bareng. Geng Busway pun akhirnya berganti transportasi jadi Geng Nebeng Yanly. Semoga Felis cepat lulus dari Sanur ya, Laurensia Juanti juga boleh keterima di jurusan Matematika yang sudah ia cita-citakan sejak lama, dan most importantly, Ci Cello harus banget married sama Yanly. Okay, sekian:)


Likes

Comments

  • Blogkeen
  • Nouw
Nouw Magazine