War and terrorism have been one of my favorite topics to talk about since I read my first passage about how crazy 9/11 was. And I’m so grateful because I met my American family who told me the stories about how was it feel to let all of their sons joining the army and fought for Afghanistan.
And because of that, I learn about how trusts, beliefs, courageous, and bravery can lead them to a peace feeling.
The first people that I interviewed was my parents and my sister. I was asking about how was it feel to send their son to the combat zone where you will have no idea whether they will come home alive or dead, healthy or injured. I got a very unexpected answers which describe how strong their beliefs are. According to their religion, they belief in God that no matter what happen family will stick together even after dead and God will always protect the family. Some people might think that it is just a positive suggestion which they created in order to protect their feelings, but what I see is, the way my family used the power of suggestion when my brothers were there makes me learn that the one who controls our feelings is nobody other than ourselves.
And then, I met Jordan. He is the third son and was serving in Afghanistan for 9 months, when he was 20 and had his 21 birthday there. The first question that I asked him was about what is the first thought that comes to his mind when I said the word bravery. Then, Jordan told me about one famous quote from George S. Patton. It says, “If we take the generally accepted definition of bravery as a quality which know no fear, I have never seen a brave man. All men are frightened. The more intelligent they are, the more they are frightened.” And according to that one quote that inspires him he said that bravery is still doing what is right even though the fears that strike you will normally makes somebody stops doing that but you still go for it or run towards the dangerous. Jordan told me about how grateful he is because he is joining the army. He used to be a shy and quiet person but after he had his training he can talk to anybody because communication is the key thing in the army when you have to built the shoots, move, and communicate in the same time and if you can’t do those 3 basic skills, you are not standing soldier.
Hearing his story, somehow just made me realize that there is a risk in every jobs, but it’s only the matter how you handle it that and how you take that as lessons in your life. Because life made by experiences, and the bravery of exploring something new and leave the comfort zone are some example for good decision in order to learn new things.
And then I asked Jordan about his concerns when he was joining the army especially when he was serving in Afghanistan. Despite of the fact that he did really has a concern about public shower where he needed to take a shower with people in the same sex as he is. Wow, it was scarier than learn how to shoot people. But, his biggest concern was actually the feeling if he could go home alive or not.
With that big concern that he told me, I asked him why is he still choose to joining the army. He simply said that freedom that he has and blessing to live peaceful in family. Jordan’s answers just made me feel that how nationalism can be a factor that affected someone’s decision. And for one and another reason it inspires me to put nationalism as a big factor in my life because of the fact that I am an exchange student who is currently living in the United States to represents my country.
Everyone in my family has their own definition of peace, starts with my parents and sister who believe in God, Jordan answer is because he realized that his action was able to provide his family in the United States with peace of mind because they didn’t need to worry about being attacked in their homeland. As a conclusion, I took one quote from Wayne W. Dyer which says “peace is the result of retraining your mind to process life as it is, rather than as you think it should be.”

Blog using your mobile phone - One of the best blogging apps on the market - Click here

Likes

Comments

Namanya Soha, sodaranya Sarah. Half Korean and Half white. She is super pretty dan baik banget. Dan yang jelas, lucu banget. Cara jokesnya bener bener lucu dan dia warm banget. Super lovely.

Setelah acaranya selesai, gua cuman main piano sedikit. Sedangkan Lexi dan Sarah touch up.

Pulang pulang pulang!

Karena gua udah capek banget. I'm not lying, make high heels itu nyiksa banget. Bener bener sakit. I don't like it. Mungkin karena heels yang dipakai yang bukan model wedges tapi yang model tinggi hak gitu.

Setelah sampe rumah, langsung buru buru ganti baju, bersihin make up, karena kita mau kesekolah untuk nonton Volleyball game!

Meskipun gua gatau cara main Volley, tapi ngeliat yang main Volley seru banget. Keinget Nanda sih. He he

Setelah itu, kita ngehabisin waktu di Downtown Gilbert. Pergi ke Candy Shop, dan akhirnya pergi makan dan cari dessert yang enak!

Kita makan di Oregano Pizza Bistro. Gaada yang spesial dengan makanan utamanya sih karena gua cuman pesen mie, tapi gua suka banget sama dessertnya. Gua lupa namanya apa, tapi itu kaya cookie dough panas diatasnya ada ice cream vanilla yang dingin dan chococips! Rasanya yang dingin ditambah cookie dough yang panas dan ada coklat yang meleleh bener bener hmmmm enak!

Setelah puas makan, jalan jalan, dan menghabiskan waktu seharian. Gua dan Lexi pun langsung pulang kerumah dan sampai jam 10.30 malem. Kira kira segitu aja hari Idul Adha kemarin. I had so much fun. Terimakasih Amerika.

Menulis cerita dari hari kemarin Jumat, 1 September 2017.

Likes

Comments

Pakistan di Amerika.

Kalo didenger emang gimana gitu ya, tapi memang idul adha kali ini agak beda buat gua. Ya pertama, karena harus dijalanin di negara yang beda. Kedua, gua ikut dan dibantu sama keluarga Pakistan disini untuk menjalankan ibadah pas Idul Adha. Kebetulan, Lexi (host sister gua) punya sahabat namanya Sarah. Sarah ini orang Pakistan, dan muslim. Dari sebelum gua dateng, dia udah baik banget.. Bahkan, alat solat gua udah disedian sama dia dari sebelum gua sampai di Amerika. Dan rencana buat Idul Adha bersama juga udah direncanakan dari sebelum gua dateng.

Sekitar 2 hari sebelum hari H, Lexi tiba tiba ngajak kerumah Sarah karena katanya Sarah ngundang untuk milih milih dress Pakistan. Sebenernya gua agak bingung untuk apa, karena sebenernya di Indonesia gua bukan orang yang dress-up untuk acara Idul Adha. Tapi yaudah gua ikutin.

Dari pertama gua masuk kerumahnya (yang sangat lucu dan luas) gua udah keinget sama rumah. Kenapa? Karena dirumahnya ada pajangan Allah Allah kaya dirumah ku dulu. Hahaha


Dari pertama masuk, langsung diarahin ke kamar Sarah dan milih baju dilemarinya yang super banyak. It was super fun! Dan meskipun susah milihnya, tapi gua dan Lexi memutuskan untuk milih yang paling keliatan kayak orang Pakistan.

Baju Pakistan kurang lebih mirip banget sama baju India. Dan ini juga baru pertama kali gua make baju India. Karena dirumah Sarah, semua orang juga berbahasa Urdu. Bahasa Pakistan, tapi ternyata bahasa India juga karena fyi, kata Sarah India dan Pakistan dulu adalah satu negara. Terus mencar deh.

Dari baju, turun ke perhiasan. Yang gaboong banyak banget! Gua jg gangerti kenapa harus pake perhiasan segiti banyaknya. Tapi, hm yaudah deh nurut aja. Gelang gelangnya warnanya mencolok banget mungkin terkesan berlebihan dan mungkin karena perbedaan budaya dalem hati gua udah membatin, hmmm alay amat ya make ginian kalo di Indo bisa dikatain apaan hahahaha.

Tapi, mungkin disitu serunya. Semakin beda, semakin menantang buat dicoba.

Layaknya gadis gadis yang baru dandan, Ibunya Sarah yang sangat lovely selalu setia ngasih saran. Bahkan beliau yang kayak milihin perhiasan sepatu dan lain lain. She's so sweet.

Dan ini Zayn, adik Sarah. Super cute! Mungkin agak hiperaktif dan caper tapi ya wajar karena baru 7 tahun.

Dan terakhir setelah beres milih sepatu. Acara pilih pilihnya pun selesai.

Diganti dengan makan malem. Makanan yang disediakan, gua gatau itu apa. Ya, makanan arab arab Pakistan begitu gimana ya... Hmm... enak, tapi kalo gua pribadi kurang suka. Karena dulu waktu gua Umrah, gua juga kurang terlalu suka makan makanan Timur Tengah karena bumbunya terlalu nyegrak buat gua. Tapi, ya gitu. Enak kok enak.

Di hari H, akhirnya kita semua berangkat dan juga dandan masing masing. Super buru buru karena harus berangkat ke masjid. It was so funny liat Lexi pake baju India juga. Karena ya bule dikasih baju India.. Hm agak gimana gitu ya.

Meskipun gua gak pernah bisa dandan, dan cuman dandan pas pas an. Tapi rasanya pake baju India itu agak merasa aneh awalnya, soalnya berasa mau main Bollywood gaboong.

Foto pertama itu Masjidnya. Kalo diliat, 1. Masjidnya gak kaya masjid. 2. Menurut gua masjid di Indonesia, atau gausah jauh jauh di Bogor aja itu jauh lebih bagus.

Foto kedua, cuman anak anak aja gatau anak siapa hm.

Foto ketiga, itu didalem masjidnyam.

Secara keseluruhan, gua bingung banget.
Gua baru sadar kalau, another thing yang harus dipelajari tentang budaya adalah : semuanya beda. Bahkan sesama muslim tuh beda. Gua itukan sebenernya lagi period, ya otomatis gak solat dong kan ya? Dan kalau di Indo, ya kalo lagi ga solat duduk aja disebelahnya tapi ga ikut solat.

Tapi disini, pas gua lagi duduk gitu aja, tiba tiba gua ditarik disuruh berdiri dan disuruh solat. Dan ketika gua udah jelasin "I'm so sorry, I'm on my period so I can't pray. I'll wait." Malah dibales "it's okay, it's okay" dan itu kondisinya udah bener bener mau mulai. Akhirnya gua yang panik, Lexi yang apalagi panik. Langsung berdiri dan akhirnya. Gua ikut solat.

Dalam hati gua cuman ngebatin, 1. Gua bahkan gapake mukena. Dan gua bingung setengah mati, karena Sarah juga gapake mukena. Bahkan bajunya pendek. Selendangnya cuman nutupin setengah rambut, dan akhirnya gua dan Lexi pun begitu. Gua heran se heran herannya. Yaampun apa emang gini cara solatnya. Dalam hati gua cuman mohon ampun aja, Ya Allah maaf ya Tasya bingung. 2. Gua ganiat dan gabaca apa apa, bener bener cuman gerak doang. Yah meskipun ga jelas banget, tapi tetep aja pengalaman.



Acaranya selesai, dan kita langsung pulang. Setelah pulang, gapake lama langsung berangkat lagi dan gua gatau berangkat kemana. Belakangan gua baru tau kita menuju ke Orange Tree Resort yang ada diluar kota yaitu di Scoottsdale.

Setelah sampai, langsung bantu bantu beres beres. Ternyata, belakangan gua juga baru tau kalau ini adalah acara Eid Mubarak Party untuk orang orang Pakistan.

Jadi, mulai make sense kenapa gua harus pake baju Pakistan. Acaranya sebenernya layaknya party pada umumnya, banyak makanan. Round table. Hang out. Foto-foto. It was so fun! Gua mungkin gamakan opor, tapi makanan Pakistan setidaknya ada kambingnya.

Tempatnya makin rame, dan bener bener berasa ada didalem sinetron Mahabarata karena semua orang terlihat seperti itu! Tapi kelengkapan acaranya bener bener bagus. Disediain foto booth ala ala gitu yang lucu, dan juga kita semua henna tattoo.

Cukup banyak yang dipelajarin hari ini, mulai dari orang Pakistan yang mirip orang India dan rata rata orang Pakistan punya selera humor yang bagus banget. Contohnya, Soha.

Likes

Comments

Peringatan : pertama kali nulis, maklum kalau kaku.

Sabtu, 27 Agustus 2017.
Pertama kali diajak pergi hiking.
Tempat : Hortons Creek Trailhead

Jadi, acara hiking ini bisa dibilang cukup dadakan. Karena host sister gua, namanya Lexi, baru kasih tau satu hari sebelumnya. Sebelumnya gua gapernah ada pengalaman hiking sama sekali. Dibayangan gua "hiking" adalah jalan jalan seru kaya waktu Nusa kelas 10. Gua hanya membatin, easy lah ya.

Terus gua tidur malem sehari sebelumnya, karena jam jam malem di akhir minggu itu jam paling enak main hape terus chat-an sama temen temen di Indonesia. Dan disitu gua belum nyiapin apa apa, masih dengan bayangan "easy" nya hiking. Sebelumnya gua dikasih tau kalo kita bakal berangkat jam 5 pagi.

Gua tidur jam 11.30 malam waktu Mesa. Dan pas paginya, pintu gua diketok2 ditanya gua udah siap belum. Gua langsung bangun, boro boro siap siap, gua bener bener baru melek jam 5.15 . Gua langsung solat, dan Lexi udah rapi. Gua gasarapan, tapi host mom ku udah nyiapin satu buah roti dan satu botol air. Seadanya gua langsung berangkat.

Dalam perjalanan ini kita ber 5 semuanya perempuan. Lexi, gua, Taylor, Caitlin, dan Katie. Perjalanan buat ke tempatnya itu sekitar 2 jam. Dan setengah perjalanan gua habiskan buat tidur karena ngantuk habis makan roti buat sarapan.

Selama dijalan, sebenernya gua nyesel karena tidur. Soalnya, pemandangannya bagus banget. Gua sebenernya dari hari pertama dateng, agak membatin dan mengira2 (gasampe ngitung) berapa kekayaan Amerika. Karena disini jalannya bener bener g e d e b a n g e t . Jalanan gede, tapi gaada mobilnya hahhaaha. Beda sama Bogor, tempat gua hidup selama 17 tahun yang jalannya segitu gitu aja tapi mobilnya seabrek.

Karena gua berangkat pagi, jadi bisa liat matahari baru baru terbit, karena disini matahari bener bener keluar sekitar jam 7an. Tapi subuh tetep jam 5.

Kita sampe (gainget jamberapa) dan langsung berangkat. Awal awal gua masih sangat bersemangat. Menghasilkan banyak foto aesthetic bersama teman teman.

Ini foto pertama yang diambil. Masih super cakep dan semangat menjelajah. Meskipun gua agak mikir, hmmmm ternyata gak kaya Nusa mendakinya.

Foto ala ala temen temen.

Jadi ini hutannya itu hutan homogen, karena jenis pohonnya bener bener cuman satu. Gaada serangga, dan gaterlalu banyak bunga. Gua hanya menemukan satu hewan, yaitu tupai disini.

Sekilas, ini mengingatkan gua pada film Twilight dan serinya karena banyak pohon pinus tempat Edward and family biasa loncat2an. Tapi, fyi Twilight itu statenya di Washington, bukan di Arizona. He

Yang cukup mengejutkan adalah, disini karena digunung cukup adem. Suhu kemarin sekitar 26 derajat Celcius. Yg cukup dingin, ditambah ku pake short. Karena biasanya, suhu rata rata Mesa dan Gilbert tempat ku tinggal itu sekitar 42-46 derajat Celcius.

Di hutan ini bersih banget dan banyak air terjun yang jernih banget.

Perjalanan berikutnya gua mulai ga foto foto.

Kenapa?

Karena gua mau mati. Gua udah capek banget, jalanannya tapi makin naik yang bener bener naik, dimana gaada Nusa nusanya sama sekali. Gua udah bener bener susah nafas, yang ada di bayangan gua cuman pengen pulang atau ga pengen pingsan aja. Gua baru pertama kali hiking, gua bukan orang yang fit, selama di Smansa gapernah suka olahraga, kalo lari maraton keliling ssa, terakhir sih juara 3 dari belakang. Bayangin aja lah ya bengeknya kaya apa.

Gua selalu minum, dan minum gua bener bener udah mau abis, dan ternyata jalannya bener bener masih jauh. Gua bener bener udah gakuat.

Karena gua selalu minta istirahat (temen temen gua mulai nyadar, gua tuh kuat atau ga. Akhirnya mereka nyaranin udahan aja. Tapi gua gaenak, karena gua udah diajak jauh banget dan belum sampe puncak nya. Terus Lexi sampe nawarin, buat gendong gua piggy back karena gua udah keliatan kaya mau mati. Tapi gua nolak (yaiyalah)

Gua terus terus menghambat perjalanan karena gua selalu minta berhenti. Sampe akhirnya, sebentar lagi (katanya) sampe. Kepala gua udah bener bener pusing banget. Akhirnya Lexi bener bener maksa buat gendong gua. Dan karena udah mau mati, gua mau.

Sayang gaada fotonya hahahaha. Galama sih, mungkinkurang lebih 5 menit digendong naik keatas sampe akhirnya sampe. Lexi itu kalau disekolah ketua dari outdoor club, semacam klub hiking.

Orang sini menurut gua cukup fit fit, mereka biasa hiking ditambah emang di Arizona gacukup banyak yang bisa dilakukan selain hiking.

Gaada gua melihat muka muka temen temen gua capek. Cuman gua, asia kecil dari Indonesia yang udah bengek dari baru setengah perjalanan.

Dijalan gua mau pingsan, gua cuman selalu mikir. Apa yang dilakukan anak anak SS Smansa, dan membatin gua kalo ikut SS udah mati di detik pertama gua ikutan SS. Dan dalam hati, menyaluti siapa aja yang kuat buat naik gunung.

Pas sampai puncak, gua langsung refill isi botol gua di mata air, yang sangat jernih dan rasanya enak. Udah gamikir itu steril atau ga karena gua udah haus banget.

Setelah itu istirahat, dan makan makan bekel. Yang gua bawa cuman cheetos dan oreo mint thin (yang super enak!) terus minum air

Dan galama, langit bener bener mendung banget dan mulai gerimis. Lalu akhirnya kita turun kebawah.

Selama turun kebawah, kita ketemu banyak kupu kupu yang kalo dideketin ga terbang. Jadi asik dimainin dan difoto. Ohya, pas pulangnya easy baru. Gua gaminum samsek dijalan (anjay) karena jalannya turunan.

Jalan jalan jalan, capek juga. Terus akhirnya terakhir banget ke air terjun cuman untuk masukin kaki keairnya yang super dingin tapi cukup relaxing ngelemesin otot yang udah bener bener capek.

Setelah itu pulang, Lexi yang nyetir. Semuanya tidur dijalan. Selesai deh, hmmmm gua merasa aneh sebenernya nulis kaya gini, tapi gua harus membuat jurnal selama setahun. Mungkin sekalian, semoga cerita cerita kaya gini bisa memberi semangat kepada adek adek yang mungkin mau punya pengalaman untuk tinggal jauh dari rumah. Hidup bersama orang dengan kebudayaan lain.

See you!

Likes

Comments

First post is just trash, looking for new stories to be posted here! ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒต๐ŸŒต๐ŸŒต

Likes

Comments